"Amerika telah mempersiapkan dan memperlengkapkan alat-alat bagi Wahabi untuk menghuru harakan perpaduan Muslimin, dari itu hendaklah kita memerhati mereka dan memperjelas kepada Umat Islam bahawa Wahabi bertujuan memecahbelahkan harakat umat Islam, sebagaimana Israel ditengah kaum muslimin, Wahabi juga bertugas menjadi musuh dalam selimut.... " Sayyed Ali Khamenei, semoga Allah melanjutkan usianya.

Sunday, December 20, 2009

Adakah Fathimah meridhai Abu Bakar dan Umar?


Adakah Fathimah meridhai Abu Bakar dan Umar?

Ditulis oleh: Riyahin

riyahin@ymail.com

Menjawab fitnah Wahabi dalam artikel “Apakah Abu Bakar Membuat Fatimah Murka?”

http://hakekat.com/component/option,com_docman/task,doc_download/gid,20/

Polemik dalam garis besar sejarah Islam, adalah suatu catatan kelam yang telah memilah umat menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama, adalah mereka yang telah didoktrinisasikan bahawa semua sahabat adalah jujur dan adil serta Allah dan RasuNya meridhai mereka semua. Kelompok ini, dalam rangka mengkultuskan seluruh sahabat, telah terjebak dengan tafsiran-tafsiran cetek al-Quran yang disajikan oleh ulama-ulama mereka, selain dari sajian ratusan jika tidak ribuan, hadis-hadis palsu keutamaan para sahabat yang semuanya saling berbenturan dengan al Quran, hadis-hadis sahih yang disepakati, maupun mantik yang sihat.

Manakala kelompok kedua adalah mereka yang menggolongkan para sahabat berdasarkan ciri-ciri mereka:

a. Sahabat yang jujur dan bertakwa

b. Sahabat yang munafik

c. Sahabat yang menyakiti Nabi saaw dan selalu membangkang

Dalam tulisan ini, perbahasan yang dibawakan adalah mengenai polemik yang berlaku sesudah wafatnya Nabi Muhammad saaw, di antara puteri Baginda saaw yang tercinta, Penghulu Wanita Semesta Alam, Sayyidah Fatimah az Zahra as dengan Abu Bakar bin Abi Quhafah mengenai persoalan perwarisan Tanah Fadak dan kemarahan Sayyidah Fatimah az Zahra as.

Para pembela sahabat kebingungan menghadapi kemelut ini, kerana ia membabitkan dua pihak, yang menurut mereka berstatus besar dalam pandangan Islam.

Di satu pihak, berdirinya Sayyidah Fatimah az Zahra as, yang bangkit menuntut haknya ke atas Tanah Fadak. Kedudukan tinggi dan mulia Sayyidah Fatimah az Zahra as telah disabdakan oleh Baginda Rasul saaw, antaranya:

1. Nabi saaw bersabda: "Yang paling aku cintai dari Ahlul Baytku adalah Fatimah"

(Al-Jami' al-Sagheer, jilid 1, #203, hlm. 37; Al-Sawaiq Al-Muhariqa, hlm. 191; Yanabi' Al-Mawadda, jilid. 2, bab. 59, hlm. 479; Kanzul Ummal, jilid. 13, hlm. 93).

2. Nabi saaw bersabda: "Empat wanita pemuka alam adalah Asiah, Maryam, Khadijah dan Fatimah"

(Al-Jami' Al-Sagheer, jilid 1, #4112, hlm 469; Al-Isaba fi Tamayyuz Al-Sahaba, jilid 4, hlm 378; Al-Bidaya wa Al-Nihaya, jilid 2, hlm 60; Dakha’ir Al-Uqba, hlm 44).

3. Nabi saaw bersabda: " Fatimah adalah Penghulu wanita syurga"

(Kanzul Ummal, jilid 13, hlm 94; Sahih Al-Bukhari, Kitab Al-Fadha’il, Bab kelebihan Fatimah; Al-Bidaya wa Al-Nihaya, jilid 2, hlm 61).

4. Nabi saaw bersabda: "Fatimah adalah bagian dariku, yang membuatnya marah, membuatku marah"

(Sahih Muslim, jilid 5, hlm 54; Khasa’is Al-Imam Ali oleh Nisa’i, hlm 121-122; Masabih Al-Sunnah, jilid 4, hlm 185; Al-Isabah, jilid 4, hlm 378; Siar Alam Al-Nubala’, jilid 2, hlm 119; Kanzul Ummal, jilid 13, hlm 97; perkataan sama diguna dalam Al-Tirmidhi, jilid 3, bab kelebihan Fatimah, hlm 241; Haliyat Al-Awliya’, jilid 2, hlm 40; Muntakhab Kanzul Ummal, catatan pinggir Al-Musnad, jilid 5, hlm 96; Maarifat Ma Yajib Li Aal Al-Bait Al-Nabawi Min Al-Haqq Alaa Men Adahum, hlm 58; Dhakha’ir Al-Uqba, hlm 38; Tadhkirat Al-Khawass, hlm 279; Yanabi^ Al-Mawadda, jilid 2, bab 59, hlm 478).

Dan di satu pihak lagi, berdirinya Abu Bakar, tokoh yang mereka pandang kanan sesudah Rasulullah saaw.

Polemik bermula, saat Abu Bakar dilantik menjawat jabatan Khalifah, selepas pertelingkahan di Saqifah Bani Sa'idah, antaranya, Umar dan Abu Ubaidah di satu pihak dan kaum Ansar, di pihak yang lain.

Sayyidatina Fatimah az Zahra as, telah menuntut haknya ke atas tanah Fadak, yang menurut beliau adalah hadiah pemberian dari bapanya Rasulullah saaw, hal yang mana dinafikan oleh Abu Bakar.

Benarkah Fadak adalah pemberian Rsulullah saaw kepada puteri Baginda saaw? Mari kita perhatikan riwayat berikut:

Telah diriwayatkan dengan sanad yang Hasan bahwa Rasulullah saaw di masa hidup Beliau telah memberikan Fadak kepada Sayyidatina Fathimah as. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad Abu Ya’la 2/334 hadis no. 1075 dan 2/534 hadis no. 1409

قرأت على الحسين بن يزيد الطحان حدثنا سعيد بن خثيم عن فضيل عن عطية عن أبي سعيد الخدري قال : لما نزلت هذه الآية { وآت ذا القربى حقه } [ الاسراء : 26 ] دعا النبي صلى الله عليه و سلم فاطمة وأعطاها فدك

Qara’tu ‘ala Husain bin Yazid Ath Thahan yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Khutsaim dari Fudhail bin Marzuq dari Athiyyah dari Abi Said Al Khudri yang berkata “ketika turun ayat dan berikanlah kepada keluarga yang dekat akan haknya [Al Isra ayat 26]. Rasulullah saaw memanggil Fathimah dan memberikan Fadak kepadanya"

Lalu, saat Abu Bakar menjawat jabatan Khalifah, dia telah merampas Fadak dari Sayyidatina Fatimah az Zahra as dan memiliknegarakan Fadak.

Hadis tentang Fadak

Hadis ini terdapat dalam Shahih Bukhari Kitab Fardh Al Khumus Bab Khumus no 1345. Namun, di sini, kita lihat hadis tersebut dari Kitab Mukhtasar Shahih Bukhari oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani jilid 3 hal 608 dengan no hadis 1345

Dari Aisyah, Ummul Mukminah RA, ia berkata “Sesungguhnya Fatimah AS binti Rasulullah SAW meminta kepada Abu Bakar sesudah wafat Rasulullah SAW supaya membahagikan kepadanya harta warisan bahagiannya dari harta yang ditinggalkan Rasulullah SAW dari harta fa’i yang dianugerahkan oleh Allah kepada Beliau.[Dalam riwayat lain: kamu meminta harta Nabi SAW yang berada di Madinah dan Fadak dan yang tersisa dari seperlima Khaibar 4/120] Abu Bakar lalu berkata kepadanya, [Dalam riwayat lain: Sesungguhnya Fatimah dan Abbas datang kepada Abu Bakar meminta dibagikan warisan untuk mereka berdua apa yang ditinggalkan Rasulullah SAW, saat itu mereka berdua meminta dibagi tanah dari Fadak dan saham keduanya dari tanah (Khaibar) lalu pada keduanya berkata 7/3] Abu Bakar “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda “Harta Kami tidaklah diwaris ,Harta yang kami tinggalkan adalah sedekah [Sesungguhnya keluarga Muhammad hanya makan dari harta ini, [maksudnya adalah harta Allah- Mereka tidak boleh menambah jatah makan] Abu Bakar berkata “Aku tidak akan biarkan satu urusan yang aku lihat Rasulullah SAW melakukannya kecuali aku akan melakukannya] Lalu Fatimah binti Rasulullah SAW marah kemudian ia senantiasa mendiamkan Abu Bakar [Ia tidak mau berbicara dengannya]. Pendiaman itu berlangsung hingga ia wafat dan ia hidup selama 6 bulan sesudah Rasulullah SAW.


Ketika Fatimah meninggal dunia, suaminya Ali RA yang menguburkannya pada malam hari dan tidak memberitahukan kepada Abu Bakar. Kemudian ia menshalatinya.

Hadis ini dan yang serupa dengannya, benar benar membuat para pencinta Abu Bakar tidak senang duduk, jika mereka menerima perilaku Abu Bakar ini ke atas Sayyidatina Fatimah az Zahra as, berarti mereka juga harus membenarkan kesan dari perbuatan Abu Bakar itu dengan hadis Nabi saaw berikut:

Sesungguhnya Rasulullah Saaw berkata: "Fatimah bagian diriku, barang siapa memarahinya berarti memarahiku." (HR Bukhori, Fadhoilu Shahabat, Fathul Bari 7/78 H. 3714)

Namun, Iblis senantiasa mempunyai tentera tenteranya dari kalangan jin dan manusia, yang bekerja tanpa kenal lelah dan tidak malu pada Tuhan serta tidak takut pada Hari Pembalasan. Mereka harus mencari kambing hitam untuk dikorbankan guna menyelamatkan Abu Bakar. Hasil dari kesungguhan mereka itu, terhasillah hadis palsu berikut yang diangkat sebagai sabda Nabi saaw dan disucikan:

Diriwayatkan dari Bukhari dan Muslim dari hadist Al Miswar bin Makhromah berkata: Sesungguhnya Ali telah melamar putri Abu Jahal, Fatimah mendengarnya lantas ia menemui Rasul Saw berkatalah Fatimah: "Kaummu menyangka bahwa engkau tidak pernah marah membela anak putrimu dan sekarang Ali akan menikahi putri Abu Jahal," maka berdirilah Rasulullah Saw mendengar kesaksian dan berkata: "Setelah selesai menikahkan beritahu saya, sesunggunhya Fatimah itu bagian dari saya, dan saya sangat membenci orang yang menyakitinya. Demi Allah, putri Rasulullah dan putri musuh Allah tidak pernah akan berkumpul dalam pangkuan seorang laki-laki." Maka kemudian Ali tidak jadi melamar putri Abu Jahal (khitbah itu) (diriwayatkan Bukhori dalam kitab Fadhailu Shahabat)

"Hadis" ini membuatkan para pencinta Abu Bakar tenang, kerana mereka akhirnya mendapatkan kambing hitam terbesar, iaitu suami kepada puteri Nabi saaw sendiri, iaitu Imam Ali as. Dengan "hadis" ini, mereka berkata..."Jika ada yang membuat puteri Nabi saaw marah, maka Ali adalah orang pertama yang membuatnya marah"

Dengan cara ini, mereka bermaksud membungkam mulut sesiapapun yang cuba mendiskredit Abu Bakar dalam persoalan Fadak yang membuatkan Sayyidatina Fatimah az Zahra as marah. Namun benarlah firman Allah berikut:

وَمَكَرُوا وَ مَكَرَ اللهُ وَ اللهُ خَيْرُ الْماكِرينَ

"Mereka membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya" (QS Aali Imran:54.)

Hadis ini hakikatnya bermasalah dari banyak sisi, jika kita benar-benar teliti, inilah hadis yang dikutip daripada perawi yang sering bershalawat ke atas Muawiyah. Kemarahan Fathimah adalah kemarahan Rasulullah, didapati bahawa ianya tidak ada kaitan langsung dengan kisah dongeng tersebut.

فاطمة بضعة من فمن أغضبها أغضبني

صحيح البخاري: ج‏4 ص‏210 (ص‏710، ح‏3714)، كتاب فضائل الصحابة، باب 12، باب مناقب قرابة رسول الله و ج 7 ص 219 (ص‏717 ح‏3767)، كتاب فضائل الصحابة، باب 29، باب مناقب فاطمة

“Fathimah adalah sebahagian daripadaku, barangsiapa membuatkannya marah, maka dia membuatkan aku marah”. Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan tidak disebut tentang Ali melamar puteri Abu Jahal. Muslim juga meriwayatkan hadis ini:

إنما فاطمة بضعة مني يؤذيني ما آذاها

صحيح مسلم: ج‏7 ص‏141 ح‏6202، كتاب فضائل الصحابة، باب 15 باب فضائل فاطمة بنت النبي

“Hanyalah Fathimah sebahagian daripada diriku, Aku merasa disakiti atas apa yang dia disakiti”. Namun tetap sahaja tidak disebut kisah dongeng tersebut. Hakim Nisyaburi juga menulis hadis ini:

إن الله يغضب لغضبك، ويرضى لرضاك

المستدرك: 3 / 153

“Sesungguhnya Allah turut murka dengan kemurkaanmu, dan meridhai dengan keridhaanmu” tetap saja tidak ada menyebut kisah dongeng tersebut.

Seluruh pengriwayatan Ahlusunnah tentang hadis Ali melamar puteri Abu Jahal yang meragukan itu telah diriwayatkan oleh Miswar bin Mukhramah. Zahabi dalam Sirul A’lam al-Nubala berkata: “Beliau adalah pendukung kuat Muawiyah” Urwah bin Zubair berkata:

وكان يثني ويصلي على معاوية، قال عروة: فلم أسمع المسور ذكر معاوية إلاّ صلّى عليه.

“Tidak sekali-kali aku mendengar Miswar menyebut Muawiyah melainkan dengan iringan shalawat ke atasnya (Muawiyah)” Sirul A’lam al-Nubala jilid 3 halaman 392.

Bershalawat ke atas Nabi menyebabkan kegembiraan Ahlul Bait namun sekarang apakah yang akan terjadi jikalau bershalawat ke atas Muawiyah? Bahkan dalam kitab Ahlusunnah menerangkan kriteria ini adalah tanda-tanda seorang Nashibi. Ibnu Hajar ‘Asqalani menulis:

والنصب، بغض علي وتقديم غيره عليه .

Nashibi adalah Baghdh (membenci) ‘Ali dan mengutamakan selainnya (Muawiyah) ke atasnya. -Muqaddimah Fath al-Bari, halaman 460

Kembali kepada persoalan Fadak. Apabila pencinta-pencinta Abu Bakar tidak dapat mematikan kisah marahnya Sayyidatina Fatimah az Zahra as terhadap Abu Bakar, mereka lalu membuat hadis tandingan, bahawa sebelum Sayyidatina Fatimah az Zahra as wafat, Abu Bakar telah memohon maaf darinya dan beliau as telah memaafkan Abu Bakar.

Benarkah kisah ini. Mari kita periksa riwayat tersebut:

Diriwayatkan oleh Al Hafidz Al Baihaqi dari Amir As Sya’bi, dia berkata, ketika Fatimah sakit Abu Bakr datang menemuinya dan meminta diberi izin masuk. Ali berkata padanya, “Wahai Fatimah, Abu Bakr datang dan meminta izin agar diizinkan masuk.” Fatimah bertanya, “Apakah engkau ingin agarku memberikan izin baginya?” Ali berkata, “Ya!” Maka Abu Bakr masuk dan berusaha meminta maaf kepadanya sambil berkata, “Demi Allah tidaklah aku tinggalkan seluruh rumahku, hartaku, keluarga dan kerabatku kecuali hanya mencari redha Allah, redha RasulNya dan Redha kalian wahai Ahlul Bayt.” Dan Abu Bakr terus memujuk sehingga akhirnya Fatimah rela dan akhirnya memaafkannya. (Dala’il An Nubuwwah, Jil. 7 Hal. 281)

Di sini Wahabi juga turut mengakui Fathimah marah terhadap Abu Bakar pada awalnya. Namun mereka mengatakan kedua Abu Bakar dan Umar mendapat keridhaan Fathimah di akhir hayat hidupnya seperti yang dinukilkan oleh Baihaqi.


Hakikatnya ketiadaan ridhanya Sayyidah Fathimah adalah asli dan berasas serta tidak dapat ditolak. Kemarahan Fathimah ini mencetuskan pertanyaan apakah sah kekhalifahan mereka berdua? Mengapa Sayyidah Fathimah penghulu wanita syurga ini tidak meridhai dan marah kepada mereka? Sedangkan menurut riwayat yang sahih sanadnya dalam kitab paling sahih Ahlusunnah mengatakan keridhaan Fathimah adalah keridhaan Rasulullah, kemarahan beliau adalah kemurkaan Allah.

Kerana itu pendukung Muawiyah telah gigih bekerja dan mengarang cerita untuk membuktikan bahawasanya kedua syaikh ini telah menemui beliau di akhir riwayat hidupnya memohon keridhaan dan Fathimah juga telah meridhai mereka!


Pertamanya: Sanad riwayat tersebut adalah Mursal; Sya’bi adalah daripada kalangan tabi’in dan dia sendiri tidak menyaksikan peristiwa yang berlaku. Riwayat ini sendiri mempunyai masalah.


Kedua: Jikalaulah kita anggap hadis daripada tabi’in ini dapat diterima sekalipun namun Riwayat daripada Sya’bi juga tidak dapat dipegang kerana Sya’bi adalah memusuhi Amirulmukminin dan seorang Nashibi. Kerana itu Bilazari dan Abu Hamid Ghazali menulis tentang Sya’bi seperti berikut:

عن مجالد عن الشعبي قال: قدمنا على الحجاج البصرة، وقدم عليه قراء من المدينة من أبناء المهاجرين والأنصار، فيهم أبو سلمة بن عبد الرحمن بن عوف رضي الله عنه... وجعل الحجاج يذاكرهم ويسألهم إذ ذكر علي بن أبي طالب فنال منه ونلنا مقاربة له وفرقاً منه ومن شره....

البلاذري، أحمد بن يحيى بن جابر (متوفاي279هـ) أنساب الأشراف، ج 4، ص 315؛

الغزالي، محمد بن محمد أبو حامد (متوفاي505هـ)، إحياء علوم الدين، ج 2، ص 346، ناشر: دار االمعرفة – بيروت.

Daripada Mujalid, daripada Sya’bi berkata: Kami telah memasuki kumpulan haji Bashrah. Ada sekumpulan Qari Madinah dari kalangan anak-anak Muhajirin dan Anshar yang disertai oleh Abu Salamah bin ‘Abdul Rahman bin ‘Auf… Kumpulan haji sibuk berbual-bual tentang Ali bin Abi Talib dan mencercanya, kamipun turut mencerca Ali…

Ansab al-Asyraf, jilid 4 halaman 315

Ihya ‘Ulumuddin, jilid 2 halaman 346

Apakah kita dapat berhujjah dengan riwayat seorang Nashibi? Seterusnya mari kita lihat kesilapan yang parah dilakukan oleh Hakekat.com yang cuba-cuba menukilkan hadis dari kitab Syiah untuk menafikan hak Fathimah yang menuntut tanah Fadak. Demi membela Syeikh mereka, mereka membawa bawa hadis-hadis Syiah, namun usaha mereka terkesan sia sia.

“Dari Ali dari ayahnya, dari Jamil dari kerabatnya dan Muhammad bin Muslim dari Abi Jafar berkata: "Wanita-wanita itu tidak dapat mewarisi sedikitpun dari tempat tingal di muka bumi ini." (Al Kaafi juz 7 hal 128)

Pertanyaan untuk kaum Syi'ah:

- Bagaimana Fatimah menuntut sesuatu yang diharamkan

terhadap kaum wanita berdasarkan mazhab Syi'ah Rafidhah ?

- Kenapa Abu Bakar dituntut untuk melakukan hal yang

diharamkan ?

- Kenapa Fatimah tidak mengikuti perintah-perintah Rasul

setelah tuntutannya terhadap warisan ?”

Golongan Nashibi menzahirkan diri mereka sebagai pendusta. Seakan-akan tidak ada orang yang akan meneliti kitab Syiah untuk melihat dakwaan mereka. Hadis tersebut telah kami temui dalam kitab al-Kafi jilid 7 halaman 175:

علي بن إبراهيم، عن محمد بن عيسى، عن يونس، عن محمد بن حمران، عن زرارة عن محمد بن مسلم، عن أبي جعفر عليه السلام قال: النساء لا يرثن من الارض ولا من العقار شيئا

Mengapa golongan Nashibi tidak mengeluarkan hadis di halaman seterusnya? Muhammad bin Muslim meriwayatkan:

أن المرأة لا ترث من تركة زوجها من تربة دار أو أرض

“Sesungguhnya perempuan tidak mewarisi apa yang ditinggalkan suaminya daripada tanah rumah atau tanah”. al-Kafi jilid 7 halaman 176

Maka telah terang kebenaran bagaikan pancaran matahari di waktu siang tanpa dilindungi awan, perempuan yang dimaksudkan dalam hadis tersebut adalah isteri, bukannya seorang putri tidak mewarisi harta seorang ayah.

Wahai Nashibi, apakah anda membaca keseluruhan kitab Syiah lalu hanya mengambil sebahagian hujjah semata-mata untuk memangkas kebenaran? Tidakkah kedatangan hak akan menyirnakan kebathilan? Anda memutar belit kenyataan namun hakikatnya pembaca sekarang akan menghukum anda sebagai pendusta.

Nashibi sekali lagi mengambil hadis Syiah:

“Ternyata riwayat di atas ada dalam kitab Syi'ah, diriwayatkan Al Kulaini dalam kitab-kitab Al Kaafi dari Albukthtari dari Abi Abdillah Jafar Asshadiq Ra sesungguhnya ia berkata: "Sesungguhnya ulama itu pewaris para Nabi dan para Nabi tidak mewariskan dirham atau dinar melainkan mewariskan beberapa hadist, barang siapa telah mengambil sebagiannya berarti telah mengambil bagian yang sempurna." Warisan yang benar adalah warisan ilmu dan kenabian dan kesempurnaan kepribadian bukan mewariskan harta benda dan keuangan.”

Hadis ini ditemui dalam kitab al-Kafi bab sifat ilmu, kelebihannya dan kelebihan ulama:

محمد بن يحيى، عن أحمد بن محمد بن عيسى، عن محمد بن خالد، عن أبي البختري، عن أبي عبدالله عليه السلام قال: إن العلماء ورثة الانبياء وذاك أن الانبياء لم يورثوا درهما ولا دينارا، وانما اورثوا أحاديث من أحاديثهم، فمن أخذ بشئ منها فقد أخذ حظا وافرا، فانظروا علمكم هذا عمن تأخذونه؟ فإن فينا أهل البيت في كل خلف عدولا ينفون عنه تحريف الغالين، وانتحال المبطلين، وتأويل الجاهلين

Pengriwayatan ini tidak sedikitpun menceritakan tentang warisan seorang bapa kepada anak, akan tetapi warisan ilmu kenabian kepada ulama. Kerana itulah al-Kulaini meletakkan hadis ini dalam bab ilmu, kelebihannya dan kelebihan ulama. Riwayat ini menumpukan perhatian kepada urusan kenabian bukanlah mengumpulkan harta dunia seperti tamakkan dirham atau dinar. Jelas sekali ia juga tidaklah bermaksud nabi Muhammad tidak meninggalkan warisan harta untuk puterinya namun para ulama mewarisi ilmu nabi, bukan keduniaan.

Tidak ada keridhaan Fathimah kepada Abu Bakar dan Umar menurut kitab yang paling sahih di kalangan Ahlusunnah

Kemarahan Fathimah terhadap Abu Bakar lebih terang dari sinaran matahari dan tidak seorangpun boleh mengingkarinya. Dalam kitab paling sahih di kalangan Ahlusunnah tercatat kata-kata Fathimah yang marah terhadap Abu Bakar.

Dalam kitab Abwab al-Khumus:

فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ فلم تَزَلْ مُهَاجِرَتَهُ حتى تُوُفِّيَتْ.

البخاري الجعفي، محمد بن إسماعيل أبو عبدالله (متوفاي256هـ)، صحيح البخاري، ج 3،‌ ص 1126، ح2926، باب فَرْضِ الْخُمُسِ، تحقيق د. مصطفى ديب البغا، ناشر: دار ابن كثير، اليمامة - بيروت، الطبعة: الثالثة، 1407 - 1987.

Maka telah marah Fathimah puteri Rasulullah (saw) dan meninggalkan Abu Bakar, marahnya berlanjutan sehingga beliau wafat.

Dalam kitab al-Maghazi, bab Ghurwah Khabir, Hadis 3998:

فَوَجَدَتْ فَاطِمَةُ على أبي بَكْرٍ في ذلك فَهَجَرَتْهُ فلم تُكَلِّمْهُ حتى تُوُفِّيَتْ

البخاري الجعفي، محمد بن إسماعيل أبو عبدالله (متوفاي256هـ)، صحيح البخاري، ج 4، ص 1549، ح3998، كتاب المغازي، باب غزوة خيبر، تحقيق د. مصطفى ديب البغا، ناشر: دار ابن كثير، اليمامة - بيروت، الطبعة: الثالثة، 1407 - 1987.

Fathimah marah pada Abu Bakar dan beliau tidak berbicara lagi dengannya sehingga wafat - Sahih Bukhari, jilid 4 halaman 1549, hadis ke 3998

Dalam kitab al-Faraidh hadis 6346:

فَهَجَرَتْهُ فَاطِمَةُ فلم تُكَلِّمْهُ حتى مَاتَتْ.

البخاري الجعفي، محمد بن إسماعيل أبو عبدالله (متوفاي256هـ)، صحيح البخاري، ج 6، ص 2474، ح6346، كتاب الفرائض، بَاب قَوْلِ النبي (ص) لا نُورَثُ ما تَرَكْنَا صَدَقَةٌ، تحقيق د. مصطفى ديب البغا، ناشر: دار ابن كثير، اليمامة - بيروت، الطبعة: الثالثة، 1407 - 1987.

Maka Fathimah meninggalkannya (Abu Bakar) dan tidak lagi berbicara dengannya sehingga meninggal dunia - Sahih Bukhari, jilid 6 halaman 2474, hadis ke 6346


Dalam riwayat ibnu Quthaibah, Fathimah tidak mengizinkan mereka masuk sewaktu Abu Bakar dan Umar datang untuk berziarah. Mereka terpaksa memohon Imam Ali (as) menjadi perantara namun gagal. Bahkan Fathimah memberikan maklum balas seperti berikut:


نشدتكما الله ألم تسمعا رسول الله يقول «رضا فاطمة من رضاي وسخط فاطمة من سخطي فمن أحب فاطمة ابنتي فقد أحبني ومن أ رضى فاطمة فقد أرضاني ومن أسخط فاطمة فقد أسخطني

Kami bersumpah demi Allah atas anda berdua, apakah kalian tidak dengar apa yang Rasulullah katakan: Ridha Fathimah adalah ridhanya aku, marahnya Fathimah adalah marahnya aku, maka barangsiapa yang menyebabkan keridhaan anakku Fathimah maka ia pun membuatkan aku ridha, barangsiapa yang menyebabkan kemarahan Fathimah maka ia membuatkan aku marah

نعم سمعناه من رسول الله صلى الله عليه وسلم.

Kedua mereka menjawab: Iya kami telah dengari ia daripada Rasulullah (saw).

Setelah itu Fathimah berkata:

فإني أشهد الله وملائكته أنكما أسخطتماني وما أرضيتماني ولئن لقيت النبي لأشكونكما إليه.

Maka sesungguhnya saya bersaksi demi Allah dan malaikatnya, sesungguhnya kalian berdua menyebabkan saya marah dan membuatkan saya tidak ridha, saya akan mengadu tentang kalian berdua ketika pertemuan saya dengan nabi.

Tidak cukup dengan ini Fathimah menambah lagi:

والله لأدعون الله عليك في كل صلاة أصليها.

الدينوري، أبو محمد عبد الله بن مسلم ابن قتيبة (متوفاي276هـ)، الإمامة والسياسة، ج 1،‌ ص 17، باب كيف كانت بيعة علي رضي الله عنه، تحقيق: خليل المنصور، ناشر: دار الكتب العلمية - بيروت - 1418هـ - 1997م.

Demi Allah, akan saya mengutuk anda setiap kali selesai shalat. - Al-Imamah wa siyasah, jilid 1 halaman 17

Dengan kenyataan ini bagaimanakah dapat kita percaya bahawa Sayyidah Fathimah meredhai mereka berdua? Apakah riwayat Bukhari yang diutamakan atau riwayat Baihaqi? apakah ia juga diriwayatkan oleh seorang musuh Ali bin Abi Talib yang menyaksikan sendiri peristiwa itu?

Ketiga: Jikalau Fathimah az-Zahra meridhai mereka berdua, mengapa beliau meninggalkan wasiat agar ia dikebumikan di waktu malam serta jangan di kasi khabar kepada orang yang menzaliminya untuk mengiringi dan menshalati jenazahnya?

Muhammad bin Ismail al-Bukhari menulis:

وَعَاشَتْ بَعْدَ النبي صلى الله عليه وسلم سِتَّةَ أَشْهُرٍ فلما تُوُفِّيَتْ دَفَنَهَا زَوْجُهَا عَلِيٌّ لَيْلًا ولم يُؤْذِنْ بها أَبَا بَكْرٍ وَصَلَّى عليها

البخاري الجعفي، محمد بن إسماعيل أبو عبدالله (متوفاي256هـ)، صحيح البخاري، ج 4، ص 1549، ح3998، كتاب المغازي، باب غزوة خيبر، تحقيق د. مصطفى ديب البغا، ناشر: دار ابن كثير، اليمامة - بيروت، الطبعة: الثالثة، 1407 - 1987.

Fathimah hidup setelah wafatnya nabi (saw) selama enam bulan. Maka ketika ia wafat, suaminya Ali bin Abi Talib mengkebumikannya di waktu malam dan tidak diizinkan Abu Bakar menshalatinya. - Sahih Bukhari, jilid 4 halaman 1549, hadis 3998, pencetak Dar Ibn Kathir – Beirut


Ibu Qutaibah al-Dainuri menulis dalam Takwil Mukhtalif al-Hadis:


Fathimah (ra) telah meminta harta pusaka ayahnya daripada Abu Bakar. Apabila ia tidak memberikan pusaka kepadanya, Fathimah bersumpah tidak akan berbicara lagi dengannya buat selama-lamanya, dan mewasiatkan agar ia dikebumikan di waktu malam supaya tidak dihadiri Abu Bakar. Maka beliau dikebumikan di waktu malam.


وقد طالبت فاطمة رضي الله عنها أبا بكر رضي الله عنه بميراث أبيها رسول الله صلى الله عليه وسلم فلما لم يعطها إياه حلفت لا تكلمه أبدا وأوصت أن تدفن ليلا لئلا يحضرها فدفنت ليلا

الدينوري، أبو محمد عبد الله بن مسلم ابن قتيبة (متوفاي276هـ)، تأويل مختلف الحديث، ج 1،‌ ص 300، تحقيق: محمد زهري النجار، ناشر: دار الجيل، بيروت، 1393، 1972.

Takwil Mukhtalaf al-Hadis, jilid 1 halaman 300


Abdul Razak Shan’ani menulis:

عن بن جريج وعمرو بن دينار أن حسن بن محمد أخبره أن فاطمة بنت النبي صلى الله عليه وسلم دفنت بالليل قال فر بها علي من أبي بكر أن يصلي عليها كان بينهما شيء

Daripada Hasan bin Muhammad berkata: bahawa Fathimah binti Nabi (saw) telah dikebumikan di waktu malam supaya Abu Bakar tidak menshalatinya. Di antara mereka berdua ada sesuatu.

Dia menambah:

عن بن عيينة عن عمرو بن دينار عن حسن بن محمد مثله الا أنه قال اوصته بذلك.

الصنعاني، أبو بكر عبد الرزاق بن همام (متوفاي211هـ)، المصنف، ج 3،‌ ص 521، ح 6554 و ح 6555، تحقيق حبيب الرحمن الأعظمي، ناشر: المكتب الإسلامي - بيروت، الطبعة: الثانية، 1403هـ.

Daripada Hasan bin Muhammad meriwayatkan seperti ini dengan mengatakan beliau (Fathimah) mewasiatkan seperti itu (dimakamkan di waktu malam). - Al-Mushannaf al-Maktabah al-Islamiyah - Beirut, jilid 3 halaman 521, hadis 6554 dan 6555, cetakan kedua 1403 H

Namun ada juga orang berkata: Abu Bakar setelah itu menyesal dan bertaubat, dalam menjawab perkara ini hendaklah kita katakan: Taubat itu ada waktu yang bermanfaat dan berharga, diiringi dengan penyesalan mendalam dalam keinginan insani. Jikalau sudah berlalu ia hendaklah membayar ganti rugi sebagai tanda sesal seorang yang bertaubat dan hak dikembalikan kepada pemiliknya.

Pertanyaan kami ialah apakah Abu Bakar mengembalikan tanah Fadak kepada Sayyidah Fathimah sehingga taubatnya menjadi taubat Nasuha yang diterima tuhan?

Kemarahan Fathimah terhadap Abu Bakar dan Umar ini berlarutan sehingga akhir hayatnya dan beliau tidak sekali-kali meridhai mereka. Permasalahan ini dalam kitab paling sahih Ahlusunnah setelah al-Quran telah cuba dipintas oleh riwayat Baihaqi yang mengatakan mereka berdua telah mendapat keridhaan Fathimah. Namun pengriwayatan ini tidak dapat dipegang kerana wujudnya seorang Nashibi dalam silsilah sanadnya.

Friday, December 4, 2009

Membunuh tujuh orang pencinta Ahlul Bait, anda masuk Syurga!

Orang Wahabi yang buta hati menganggap akan dapat masuk syurga tanpa dihisab dan membawa kitab amalan serta (dengan fatwa kekafiran Syiah) menjadi tetamu Rasulullah setelah membunuh tujuh orang Syiah! Foto-foto di bawah ini adalah seorang pengganas (terrorist) Wahabi yang ditangkap oleh pasukan keamanan Iraq beberapa langkah sebelum ia meledakkan bom di ikatan tali pinggangnya. Sumber- Berita Syiah









































Wednesday, December 2, 2009

Mengapa Fathimah az-Zahra (AS) dimakamkan di waktu malam?

Mengapa Fathimah az-Zahra (AS) dimakamkan di waktu malam?

Syubhah:

Mereka mengatakan Fathimah dimakamkan di waktu malam kerana wasiat Fathimah kepada Asma binti Umais isteri Abu Bakar, agar siapa saja yang bukan Muhrim tidak dapat melihat ukuran jasad beliau.

Kritikan dan Penelitian:

Dimakamkan di waktu malam, shalat jenazah tanpa kehadiran khalifah, makamnya disembunyikan dan peristiwa ini masih menyimpan banyak misteri. Memang benar Fathimah meninggalkan wasiat seperti ini namun apakah yang terjadi sehingga Fathimah hendak meninggalkan wasiat bersejarah ini di akhir hayatnya? Tidakkah anda setuju beliau menzahirkan (menampakkan) kemarahannya terhadap musuh? Hakikatnya pertanyaan dan pandangan tajam generasi sejarawan dan masyarakat masih tertanya-tanya mengapa makam Fathimah disembunyikan? Dan mengapa Ali (as) tidak memberitahukan shalat jenazah beliau?
Apakah tidak ada lagi pengganti nabi (seperti yang telah didakwa) yang layak menshalati jenazah beliau?

Iya, Fathimah telah mewasiatkan pengkebumian jenazah beliau di waktu malam tanpa memberitahukan kepada mereka yang telah menzalimi beliau. Maka inilah sanad yang terbaik bagi Syiah yang mengaitkan kematian Sayidah Fathimah dianiaya dan Fathimah tidak pernah meridhai mereka. Banyak riwayat dari kitab-kitab Syiah dan Sunni berkaitan tentang peristiwa ini. Di sini kami sebutkan beberapa riwayat:

Pengkebumian jenazah di waktu malam dalam riwayat Ahlusunnah:

Muhammad bin Ismail Bukhari menulis:
وَعَاشَتْ بَعْدَ النبي صلى الله عليه وسلم سِتَّةَ أَشْهُرٍ فلما تُوُفِّيَتْ دَفَنَهَا زَوْجُهَا عَلِيٌّ لَيْلًا ولم يُؤْذِنْ بها أَبَا بَكْرٍ وَصَلَّى عليها.
البخاري الجعفي، محمد بن إسماعيل أبو عبدالله (متوفاي256هـ)، صحيح البخاري، ج 4، ص 1549، ح3998، كتاب المغازي، باب غزوة خيبر، تحقيق د. مصطفى ديب البغا، ناشر: دار ابن كثير، اليمامة - بيروت، الطبعة: الثالثة، 1407 - 1987.

Dan beliau (Fathimah) hidup setelah wafatnya Rasulullah selama enam bulan, maka setelah (Fathimah) wafat, beliau dikebumikan di waktu malam oleh suaminya Ali bin Abi Talib dan tidak sekali-kali diizinkan Abu Bakar menyolati jenazahnya.
Muhammad bin Ismail Abu Abdillah, Sahih Bukhari jilid 4 halaman 1549
Ibnu Qutaibah dalam takwil yang berbeda menulis:

وقد طالبت فاطمة رضي الله عنها أبا بكر رضي الله عنه بميراث أبيها رسول الله صلى الله عليه وسلم فلما لم يعطها إياه حلفت لا تكلمه أبدا وأوصت أن تدفن ليلا لئلا يحضرها فدفنت ليلا.
الدينوري، أبو محمد عبد الله بن مسلم ابن قتيبة (متوفاي276هـ)، تأويل مختلف الحديث، ج 1، ص 300، تحقيق: محمد زهري النجار، ناشر: دار الجيل، بيروت، 1393هـ، 1972م.
Dan sesungguhnya Fathimah menuntut harta pusaka ayahnya daripada Abu Bakar, maka Abu Bakar tidak memberi kepadanya. Fathimah bersumpah tidak lagi mahu berbicara dengan Abu Bakar selama-lamanya sehinggalah dia (Abu Bakar) tidak terhadir saat pengkebumiannya.
Abdul Razak Sana’i menulis:

عن بن جريج وعمرو بن دينار أن حسن بن محمد أخبره أن فاطمة بنت النبي صلى الله عليه وسلم دفنت بالليل قال فرَّ بِهَا علي من أبي بكر أن يصلي عليها كان بينهما شيء.
Daripada Jarih dan ‘Umru bin Dinar, sesungguhnya Hasan bin Muhammad memberitahu bahawasanya Ali mengebumikan Fathimah binti Nabi (saw) di waktu malam sehingga Abu Bakar tidak menyolatinya kerana antara kedua mereka ada peristiwa yang telah terjadi.
Beliau menambah lagi:

عبد الرزاق عن بن عيينة عن عمرو بن دينار عن حسن بن محمد مثله الا أنه قال اوصته بذلك
Hasan bin Muhammad menukilkan riwayat seperti ini juga; sesungguhnya dia (Fathimah) telah mewasiatkan demikian itu

الصنعاني، أبو بكر عبد الرزاق بن همام (متوفاي211هـ)، المصنف، ج 3، ص 521، حديث شماره 6554 و حديث شماره: 6555، تحقيق حبيب الرحمن الأعظمي، ناشر: المكتب الإسلامي - بيروت، الطبعة: الثانية، 1403هـ.
Al-San’ani, Abu Bakar Abdul Razak, al-Musannaf, jilid 3 halaman 521 hadis no. 6555
Dan Ibnu Bathal dalam Syarah Sahih Bukhari menulis

أجاز أكثر العلماء الدفن بالليل... ودفن علىُّ بن أبى طالب زوجته فاطمة ليلاً، فَرَّ بِهَا من أبى بكر أن يصلى عليها، كان بينهما شىء.
اكثر علما دفن جنازه را در شب اجازه داده‌اند. علي بن ابوطالب، همسرش فاطمه را شبانه دفن كرد تا ابوبكر به او نماز نخواند؛ چون بين آن دو اتفاقاتى افتاده بود.
Kebanyakan ulama membenarkan pengebumian jenazah di waktu malam… dan Ali bin Abi Talib mengebumikan isterinya di waktu malam sehingga Abu Bakar tidak menyolatinya kerana antara kedua mereka ada peristiwa yang telah berlaku.

إبن بطال البكري القرطبي، أبو الحسن علي بن خلف بن عبد الملك (متوفاي449هـ)، شرح صحيح البخاري، ج 3، ص 325، تحقيق: أبو تميم ياسر بن إبراهيم، ناشر: مكتبة الرشد - السعودية / الرياض، الطبعة: الثانية، 1423هـ - 2003م
Ibnu Bathal, Syarah Sahih Bukhari, jilid 3 halaman 325
Ibnu Abil Hadid ketika mengutip dari Jahiz (wafat dalam tahun 255 Hijrah) menulis:

وظهرت الشكية، واشتدت الموجدة، وقد بلغ ذلك من فاطمة ( عليها السلام ) أنها أوصت أن لا يصلي عليها أبوبكر.
Fathimah mengadu dan berdukacita sehingga beliau mewasiatkan supaya Abu Bakar tidak menyolatinya.

شكايت و ناراحتى فاطمه (از دست غاصبين) به حدى رسيد كه وصيت كرد ابوبكر بر وى نماز نخواند.
إبن أبي الحديد المدائني المعتزلي، أبو حامد عز الدين بن هبة الله بن محمد بن محمد (متوفاي655 هـ)، شرح نهج البلاغة، ج 16، ص 157، تحقيق محمد عبد الكريم النمري، ناشر: دار الكتب العلمية - بيروت / لبنان، الطبعة: الأولى، 1418هـ - 1998م.
Ibnu Abil Hadid al-Muktazili, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 16, halaman 157
Dan di tempat lain beliau menulis:

وأما إخفاء القبر، وكتمان الموت، وعدم الصلاة، وكل ما ذكره المرتضى فيه، فهو الذي يظهر ويقوي عندي، لأن الروايات به أكثر وأصح من غيرها، وكذلك القول في موجدتها وغضبها.
شرح نهج البلاغة، ج 16، ص 170.
Disembunyikan kematian dan tempat pengkebumian Fathimah, dan Abu Bakar serta Umar tidak dapat menyolatinya , semua yang dikatakan oleh Murtadha dapat saya terima kerana riwayat-riwayat yang berkaitan dengannya sangat sahih. Demikian juga sahihnya kisah kemarahan Fathimah.

Syarh Nahjul Balaghah, jilid 16 halaman 170

Pengkebumian di waktu malam menurut riwayat Syiah:

Semua penyebab adanya wasiat Fathimah dalam riwayat-riwayat Syiah adalah khusus dan sepakat. Namun dalam perkara ini dikeluarkan salah satu pengriwayatannya:

Al-Marhum Syaikh Saduq menulis sebab-sebab pengkebumian Fathimah di waktu malam:

عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي حَمْزَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ عليه السلام لِأَيِّ عِلَّةٍ دُفِنَتْ فَاطِمَةُ (عليها السلام) بِاللَّيْلِ وَ لَمْ تُدْفَنْ بِالنَّهَارِ قَالَ لِأَنَّهَا أَوْصَتْ أَنْ لا يُصَلِّيَ عَلَيْهَا رِجَالٌ [الرَّجُلانِ‏].
Ali bin Abu Hamzah bertanya kepada Imam Sodiq (as) mengapakah Fathimah dikebumikan di waktu malam dan tidak di waktu siang? Katanya: kerana diwasiatkan supaya beberapa lelaki tidak menyolatinya.

الصدوق، أبو جعفر محمد بن علي بن الحسين (متوفاي381هـ)، علل الشرايع، ج‏1، ص185، تحقيق: تقديم: السيد محمد صادق بحر العلوم، ناشر: منشورات المكتبة الحيدرية ومطبعتها - النجف الأشرف، 1385 - 1966 م .
As-Saduq, Abu Ja’far bin Ali bin Hussain, ‘Ilal al-Syarayi’, jilid 1 halaman 185
Al-Marhum Sahib Madharik berkata:

إنّ سبب خفاء قبرها ( عليها السلام ) ما رواه المخالف والمؤالف من أنها ( عليها السلام ) أوصت إلى أمير المؤمنين ( عليه السلام ) أن يدفنها ليلا لئلا يصلي عليها من آذاها ومنعها ميراثها من أبيها ( صلى الله عليه وآله وسلم ).
Sebab disembunyikan pengkebumian Fathimah di malam hari dalam berbagai riwayat dan penulis bahawa beliau (Fathimah) mewasiatkan kepada Amirul Mukminin supaya dikebumikannya di waktu malam sehingga beliau tidak disolati oleh orang yang menyakitinya dan orang yang tidak memberikan harta pusaka ayahnya.

الموسوي العاملي، السيد محمد بن علي (متوفاي1009هـ، مدارك الأحكام في شرح شرائع الاسلام، ج 8، ص279، نشر و تحقيق مؤسسة آل البيت عليهم السلام لإحياء التراث، الطبعة: الأولي، 1410هـ.
Al-Musawi al-‘Amili, Sayed Muhammad bin Ali, Mudarik al-Ahkam fi Syarh Syarai’ al-Islam, jilid 8 halaman 279

Kesimpulan:
Dengan memahami dalil-dalil dan pengakuan cendiakawan Ahlusunnah, maka kita dapati Fathimah tidak mahu beberapa orang yang menganiaya beliau hadir menshalati jenazahnya, dan beliau telah marah kepada khalifah buat selama-lamanya.

Angkatan Menjawab Syubhah
http://reyhane-masoumah.blogspot.com

Friday, July 10, 2009

Filem: Siyahat Gharb

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang
Judul Filem: Siyahat Gharb Bahasa: Farsi dengan versi subtitle bahasa Melayu dan Indonesia
Masa: app 1 jam


Sebuah filem yang berkisah perjalanan saorang pemuda ke alam barzakh apabila kematian meragut nyawanya tanpa disangka-sangka. Beliau tidak dapat menerima hakikat terpaksa menghuni sebuah pusara yang sempit. Walau berkali-kali menyatakan penyesalan kerana tidak beramal shaleh di dunia, perjalanan beliau ke beberapa perhentian ditemani amalan baik dan jahatnya terpaksa diteruskan. Beliau menyaksikan betapa ngerinya manusia yang disiksa dan balasan akibat amalan jahat mereka di muka bumi seperti perempuan tidak menutup aurat, penzina, pemakan harta anak yatim, golongan beramal shaleh tetapi menghina orang lain. Filem penuh teladan ini turut diiringi dengan bacaan ayat-ayat suci al-Quran, doa Abu Hamzah Thumali dan Khutbah Nahjul Balaghah tentang kematian. Apakah beliau berjaya menghadapi perjalanan yang sungguh menakutkan ini?

















Ketika dimasukkan dalam liang lahad




































Balasan terhadap peminum arak, mereka ini minum air panas yang menidih





































































































Balasan buat perempuan yang tidak menutup rambut mereka serta berdandan untuk dipertonton kepada bukan Muhrim, mereka ini dibakar dan kulit mereka diganti baru supaya terus merasai kesakitan api.


















Perjalanan ditemani amalan jahat.


Alhamdulillah dengan usaha murni staf blog ini, filem Siyahat Gharb berjaya diterjemah dan akan menemui pecinta Ahlul Bait di Malaysia dan Indonesia tak lama lagi. Pihak kami akan mengatur bagaimanakah cara filem ini akan dipasarkan. Semoga Allah membantu penterjemahan Filem-filem lain di waktu mendatang. Sasungguhnya kematian sangatlah dekat dengan kita, barangsiapa yang cuba lari akan ditangkapnya, siapa-siapa yang diam akan di tawannya, ia mengikuti kita umpama bayang-bayang. Wassalam

Tuesday, June 2, 2009

Siri Menjawab Syubhah: Mengapa nama Ali dan kekhalifahannya tidak terdapat di dalam al-Quran secara jelas?

Pertanyaan: Mengapa nama Ali dan kekhalifahannya tidak terdapat di dalam al-Quran secara jelas.

Jawaban: Imam Kazim juga pernah ditanya tentang hal ini. Imam menjawab yang pertama al-Quran tidak menjelaskan semua masalah secara terperinci. Seperti tentang Shalat, Allah berfirman: 'Dirikanlah Shalat' akan tetapi tidak dijelaskan tentang berapa rakaatnya. Begitu juga dalam masalah Haji, Zakat dan yang lainnya, Allah (swt) memberi tanggung jawab kepada Nabi (s) untuk menjelaskannya secara terperinci dan Dia jadikan kata-kata Nabi (s) setara dengan al-Quran.

___________________________________
'Apa yang Rasul berikan kepadamu maka ambillah, dan apa yang dilarangnya jauhilah'
Surah al-Hasyr, 7


Begitu juga banyak riwayat sama ada Sunni atau Syiah mengatakan:
_________________________________
Sesungguhnya Jibrail menurunkan Sunnah sebagaimana ia menurunkan al-Quran (menyampaikan Sunnah seperti mana ia menyampaikan al-Quran)

Kita mengakui bahawa terdapat ayat tentang Ali dalam al-Quran.
________________________________
'Sesungguhnya Wali kamu ialah Allah dan Rasulnya dan mereka yang beriman, yang mendirikan Shalat, memberi zakat ketika mereka rukuk'
al-Maidah ayat 55

Ulama-ulama muktabar Ahlusunnah seperti Taftazani, Qusyji, Jurjani sehinggakan para mufassirin mengatakan:

________________________________
Sesungguhnya ayat ini mengenai Ali bin Abi Talib ketika ia memberi cincin kepada seorang peminta.

Tafsir al-Aalusi: 6/166: Sesungguhnya Ayat Ini diturunkan pada Ali karramahu wajhah; 3/602: dan ijma' para Imam Tafsir maksudnya adalah Ali; Syarah al-Tadrib: 368.

Pertanyaan kami ialah, ketika Abu Bakar melantik Umar menjadi Khalifah, ungkapan apa yang dia ucapkan? Apakah Rasul tidak ucapkan ungkapan ini untuk hak Ali?

Jika dengan lafaz Khalifah, Rasulullah telah mengatakan Ali adalah Khalifah sesudahku.

Jika dengan lafaz Wasi, Rasulullah mengatakan Ali adalah Wasi sesudahku.

Jika dengan lafaz Imam, Rasulullah juga mengatakan Ali bin Abi Talib (as) adalah Imam al-Bararah (Pemimpin berbakti).
Yanabi'ul Mawaddah: 2/78; Jami' al-Saghir: 2/177.

Akan tetapi sayang sekali pembahasan ini tidak diterima melalui kebenaran, namun mengikuti kekerasan hati dan kefanatikan.

Semoga Berhasil
Angkatan Penjawab Syubhah
http://reyhane-masoumah.blogspot.com

Thursday, May 21, 2009

Penghormatan terhadap Makam tokoh Ahlusunnah.















Pandangan dari luar Makam Imam Bukhari.




















Halaman yang disemai dengan rumput hijau.















Pusara Imam Bukhari.















Pandangan dalam kubah di atas pusara beliau.

Apakah golongan Wahabi berani mengebom pusara tokoh mereka sendiri sebelum menghancurkan permakaman para Imam kami? Pergilah ke makam pemimpin anda sendiri dan bersihkan ia dari syirik!

Tuesday, April 21, 2009

Siri Menjawab Syubhah: Bahagian [2] Apakah wujud riwayat tahrif dalam kitab al-Kafi?

Syaikh Muhammad al-Ghazali:

سمعت من هؤلاء يقول في مجلس علم : إنّ للشيعة قرآنا آخر يزيد و ينقص عن قرآننال المعروف فقلت له : أين هذا القرآن ؟ و لماذا لم يطّلع الإنس و الجن علي نسخة منه خلال هذا الدهر الطويل ؟ لماذا يساق هذا الافتراء...
دفاع عن العقيدة والشريعة ، ص 253 ، 264 طبع مصر عام 1975 الطبعة الرابعة .

"Saya telah mendengar daripada mereka dalam majlis ilmu mengatakan Syiah mempunyai al-Quran yang berbeda daripada al-Quran kita dan mempunyai subjek yang berkurang dan berlebih. Lalu saya mengatakan al-Quran ini di mana? Kenapa tidak seorang pun manusia dan jin menemui walau satu naskah daripadanya selama zaman yang panjang ini? Kenapa engkau membuat tuduhan tersebut?."

Seandainya semata-mata pengriwayatan hadis tersebut boleh menjadi kafir, maka seharusnya dari awal lagi hendaklah dihukumkan kafir terhadap penulis besar Ahlusunnah kerana mereka juga membawa riwayat yang berunsur Tahrif.

Telah berkata Ibnu Abbas, Umar telah berkata:

عن ابن عباس، قال: قال عمر: إِنَّ اللَّهَ بَعَثَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْحَقِّ وَأَنْزَلَ عَلَيْهِ الْكِتَابَ فَكَانَ مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ آيَةُ الرَّجْمِ فَقَرَأْنَاهَا وَعَقَلْنَاهَا وَوَعَيْنَاهَا رَجَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجَمْنَا بَعْدَهُ فَأَخْشَى إِنْ طَالَ بِالنَّاسِ زَمَانٌ أَنْ يَقُولَ قَائِلٌ وَاللَّهِ مَا نَجِدُ آيَةَ الرَّجْمِ فِي كِتَابِ
اللَّهِ فَيَضِلُّوا بِتَرْكِ فَرِيضَةٍ أَنْزَلَهَا اللَّهُ وَالرَّجْمُ فِي كِتَابِ اللَّهِ حَقٌّ عَلَى مَنْ زَنَى إِذَا أُحْصِنَ مِنْ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ إِذَا قَامَتْ الْبَيِّنَةُ أَوْ كَانَ الْحَبَلُ أَوْ الِاعْتِرَافُ ثُمَّ إِنَّا كُنَّا نَقْرَأُ فِيمَا نَقْرَأُ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ أَنْ لَا تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ فَإِنَّهُ كُفْرٌ بِكُمْ أَنْ تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ أَوْ إِنَّ كُفْرًا بِكُمْ أَنْ تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ
صحيح البخاري،  ج8، ص25و 26 و صحيح مسلم، ج5، ص116و مسند احمد، ج1،‌ ص40 و 55. و السنن الدارمي، عبدالله بن بهرام الدارمي ، ج2، ص179و سنن ترمزي، ج2، ص442 و المحلى ، ابن حزم ، ج 11 ، ص 236 .

Sesungguhnya Allah mengutuskan Muhammad (s) dengan benar, dan menurunkan kitab kepadanya, maka di dalamnya ada satu ayat tentang Rejam, lalu kami membacanya dan memahaminya dengan seluruh pemahaman, dan kami melakukan hukuman rejam selepas Rasulullah (s). Saya takut selepas masa berlalu pergi, orang berkata demi Allah kami tidak menemui ayat ini dalam al-Quran lalu dengan sebab meninggalkan kewajiban tuhan ini, mereka akan tersesat......

Al-Sya'rani daripada ulama besar Ahlusunnah juga mengatakan:
 
ولولا ما يسبق للقلوب الضعيفة ووضع الحكمة في غير اهلها لبينت جميع ما سقط من مصحف عثمان .
الكبريت الاحمر على هامش اليواقيت والجواهر ، ص143 .

Jikalau tiada kemusykilan bagi hati orang yang lemah, dan ilmu berada pada bukan posisinya maka tidak akan jatuh seluruh penerangan di Mushaf Uthmani.
al-ahmar 'ala hamisy al-Yuwaqit wal jawahir, halaman 143

Mufassir tersohor al-Alusi selepas menyebut tentang riwayat-riwayat Tahrif berkata:

والروايات في هذا الباب اكثر من ان تحصى .
روح المعاني ، ج1 ، ص24 .خ

Pengriwayatan tentang ini terlalu banyak daripada yang telah diperhitungkan.
Ruhul Ma'ani, jilid 1, halaman 24

نقل في الكتب القديمة ان ابن مسعود كان ينكر كون سورة الفاتحة من القرآن وكان ينكر كون المعوذتين من القرآن .
مفاتيح الغيب  ، ج 1 ، ص169 .

Fakhrudin al-Razi di dalam tafsirnya mengatakan ia telah menukilkan dari kitab-kitab lama sesungguhnya Ibnu Mas'ud berkata surah Fatihah dan Falaq dan al- Nas bukan bahagian daripada al-Quran.
 
Jadi sebelum kami menjawab (tentunya kami telah menjawabnya) Ahlusunnah juga harus menjawabnya.

Semoga Berhasil
Angkatan Menjawab Syubhah
http://reyhane-masoumah.blogspot.com

Monday, April 20, 2009

Siri Menjawab Syubhah: Bahagian [1] Apakah wujud riwayat tahrif dalam kitab al-Kafi?

Pertanyaan: Apakah wujud riwayat tahrif dalam kitab al-Kafi?

Jawaban: Pertamanya, tidak semua riwayat dalam kitab al-Kafi itu Sahih, kami seperti Ahlusunnah, kami tidak mengakui semua riwayat dalam kitab al-Kafi itu Sahih.

Keduanya istilah tahrif dalam Kalam kami dan daripada al-Marhum Kulaini menyebut:
 
يُحَرِّفُونَ الکَلِمَ عَن مَوَاضِعِهِ ( سوره مائده آيه 41)
 
 
Berbicara kalam tentang tempat-tempatnya
ialah sesuatu yang kembali menunjuki makna ayat, bukannya sesuatu itu mengubah al-Quran.

Pengriwayatan daripada Usul al-Kafi yang menunjukkan adanya Tahrif masih boleh dijawab jika menurut semua jalan metodologi dari arah persanadannya sudah Sahih. Misalnya firman Allah (swt):

قَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَ ما كانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ (فِي عَلِي وَ الْأَئِمَّةِ ) كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسي فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قالُوا
اصول الکافي ، ج1  ص414 ، بَابٌ فِيهِ نُكَتٌ وَ نُتَفٌ مِنَ التَّنْزِيلِ فِي الْوَلَايةِ .

Usul al-Kafi, jilid 1 halaman 414

Firman Allah:

"Kamu tidak berhak menyakiti Rasulullah (terhadap Ali dan para Imam) seperti orang-orang yang menyakiti Musa maka Allah berlepas tangan dengan apa yang telah mereka katakan"

Dalam Sanad berasingan ini iaitu Sanad Sahih atau tidak, kita mampu menjawab:
Bermaksud daripada firman Allah (azj) dalam riwayat, bukanlah al-Quran (kerana kebanyakan riwayat adalah hadis-hadis Qudsi, diturunkan daripada Allah kepada RasulNya namun ianya bukan al-Quran).
Riwayat ini juga menerangkan subjek-subjeknya. Iaitu ketika ayat ini turun atas Rasulullah, pengriwayatan itu membawa maksud kepada Ali dan para Imam.

Akan tetapi Ahlusunnah memaknai ayat itu sebagai Tahrif, dan menerangkannya sebagai
subjek yang lain pula.

Pegangan Syiah tidak mempercayai adanya Tahrif al- Quran. Menurut pandangan Syiah tiada tempat untuk Tahrif al-Quran walaupun banyaknya ulama Ahlusunnah mengiktiraf adanya Tahrif tersebut.

Syaikh Muhammad Abu Zuhrah menyatakan:
 
القرآن بإجماع المسلمين هو حجة الإسلام الأولي و هو مصدر له ، و هو سجل شريعته ، و هو الذي يشتمل علي كلها و قد حفظه الله تعلي الي يوم الدين كما وعد سبحانه اذ قال : «انا نحن نزلنا الذكر و إنا له لحافظون» و إن إخواننا الامامية علي اختلاف منازعهم يرونه كما يراه كل مؤمنين .
الامام الصادق ، محمد ابوزهره ، ص296 .

Saudara-saudara kita Syiah, adanya ikhtilaf mazhab dengan kita, pandangan mereka terhadap al-Quran sama sebagaimana semua Mukmin yang lain.
Imam Shadiq, Muhammad Abu Zuhrah, halaman 296.

و مهما يكن من أمر فإن هذا المصحف هو الوحيد المتداول في العالم الاسلامي ، بما فيه فرق الشيعة ، و منذ ثلاثة عشر قرناً من الزمان
مدخل إلي القرآن الكريم ، ص40_39

Sesungguhnya Mashaf al-Quran yang tersebar di seluruh dunia Islam sekarang ini adalah al-Quran yang sama dikalangan Syiah, (Iaitu Syiah juga menerima al-Quran ini) selama tiga belas abad.
Madkhal ilal Quranul Karim, 39-40.

Syaikh Rahmatullah al-Hindi:
 
القرآن المجيد عند جمهور علماء الشيعة الامامية الاثني عشرية محفوظ من التغيير و التبديل، و من قال منهم بوقوع النقصان فيه، فقوله مردود غير مقبول عندهم .
اظهار الحق ، تعليق الدكتور أحمد حجازي ، ص431 .

"Al-Quran Majid menurut Jumhur Ulama Syiah Imamiah Ithna 'Asyariyah terjaga daripada perubahan dan penggantian. Orang yang mengatakan bahawa di dalam al-Quran terdapat kekurangan, perkataannya tidak bisa diterima.

Bersambung.....

Semoga Berhasil
Angkatan Menjawab Syubhah
http://reyhane-masoumah.blogspot.com

Monday, April 13, 2009

Siri Menjawab Syubhah: Mengapa nama Ali dan kekhalifahannya tidak terdapat di dalam al-Quran secara jelas?

Pertanyaan: Mengapa nama Ali dan kekhalifahannya tidak terdapat di dalam al-Quran secara jelas.

Jawaban: Imam Kazim juga pernah ditanya tentang hal ini. Imam menjawab yang pertama al-Quran tidak menjelaskan semua masalah secara terperinci. Seperti tentang Shalat, Allah berfirman: 'Dirikanlah Shalat' akan tetapi tidak dijelaskan tentang berapa rakaatnya. Begitu juga dalam masalah Haji, Zakat dan yang lainnya, Allah (swt) memberi tanggung jawab kepada Nabi (s) untuk menjelaskannya secara terperinci dan Dia jadikan kata-kata Nabi (s) setara dengan al-Quran.

___________________________________
'Apa yang Rasul berikan kepadamu maka ambillah, dan apa yang dilarangnya jauhilah'
Surah al-Hasyr, 7


Begitu juga banyak riwayat sama ada Sunni atau Syiah mengatakan:
_________________________________
Sesungguhnya Jibrail menurunkan Sunnah sebagaimana ia menurunkan al-Quran (menyampaikan Sunnah seperti mana ia menyampaikan al-Quran)

Kita mengakui bahawa terdapat ayat tentang Ali dalam al-Quran.
________________________________
'Sesungguhnya Wali kamu ialah Allah dan Rasulnya dan orang beriman yang mendirikan Shalat, memberi zakat ketika mereka rukuk'
al-Maidah ayat 55

Ulama-ulama muktabar Ahlusunnah seperti Taftazani, Qusyji, Jurjani sehinggakan para mufassirin mengatakan:

________________________________
Sesungguhnya ayat ini mengenai Ali bin Abi Talib ketika ia memberi cincin kepada seorang peminta.

Tafsir al-Aalusi: 6/166: Sesungguhnya Ayat Ini diturunkan pada Ali karramahu wajhah; 3/602: dan ijma' para Imam Tafsir maksudnya adalah Ali; Syarah al-Tadrib: 368.

Pertanyaan kami ialah, ketika Abu Bakar melantik Umar menjadi Khalifah, ungkapan apa yang dia ucapkan? Apakah Rasul tidak ucapkan ungkapan ini untuk hak Ali?

Jika dengan lafaz Khalifah, Rasulullah telah mengatakan Ali adalah Khalifah sesudahku.

Jika dengan lafaz Wasi, Rasulullah mengatakan Ali adalah Wasi sesudahku.

Jika dengan lafaz Imam, Rasulullah juga mengatakan Ali bin Abi Talib (as) adalah Imam al-Bararah (Pemimpin berbakti).
Yanabi'ul Mawaddah: 2/78; Jami' al-Saghir: 2/177.

Akan tetapi sayang sekali pembahasan ini tidak diterima melalui kebenaran, namun mengikuti kekerasan hati dan kefanatikan.

Semoga Berhasil
Angkatan Menjawab Syubhah
http://reyhane-masoumah.blogspot.com

Siri Menjawab Syubhah: Dalam aqidah Syiah martabat Ali (as) lebih tinggi dari seluruh para nabi. Sila buktikan perkara ini dengan ayat al-Quran.

Pertanyaan: Dalam aqidah Syiah martabat Ali (as) lebih tinggi dari seluruh para nabi. Sila buktikan perkara ini dengan ayat al-Quran.

Jawaban: Dalam perkara ini ada satu jawaban yang bertentangan dan ada satu jawaban penyelesaian. Namun jawaban bertentangan ialah: Ahlusunnah menukilkan daripada Abu Bakar bahawa Nabi (s) bersabda:
___________________________________
"Jikalau saya tidak diutus kepada kamu semua, niscaya diutuskan Umar kepadamu."
Tarikh Madinah Dimasq: 44/114; Kanzul 'Ummal: 11/581

Ia menyatakan tingkatan makam Umar setara dengan makam Nabi (s). Oleh kerana Nabi Muhammad (s) lebih afdhal daripada semua para Nabi, maka Umar juga turut lebih Afdhal daripada semua Anbiya!!!

Namun jawaban penyelesaian:

Syiah dan Sunni mahupun Wahabi beraqidah tentang 'diri kami dan diri kamu' dalam ayat Mubahalah adalah Ali bin Abi Talib (as).
Surah Ali 'Imran, ayat 61

Mereka berkata: Dalam ayat ini diri dan jiwa Nabi (s) diletakkan pada Ali bin Abi Talib (as), maka perkataan 'diri' di sini bukanlah bermaksud diri yang sebenar, namun bermakna beliau mempunyai seluruh kelebihan dan martabat Nabi hanya saja beliau bukanlah seorang Nabi.

Dalam Hadis Manzil juga nabi bersabda:

"Kedudukanmu di sisiku seperti Harun di sisi Musa, cuma tiada Nabi setelahku"
Sahih Muslim: 8/120; Sunan Ibnu Majah 1/45"

Di samping itu ada berbagai riwayat ketika surah Baraah telah diturunkan. Nabi (s) memberikan surah itu kepada Abu Bakar untuk dibacakan di hadapan Musyrikin Makkah. Namun saat beliau dalam perjalanan dengan arahan Nabi, Ali bin Abi Talib (s) datang dan mengambil surah itu. Abu Bakar berduka cita lantas berkata kepada Nabi (s): Apakah telah turun sesuatu supaya surah dari saya diambil? Nabi bersabda: Tidak, Tuhan dengan perantara Jibrail menyampaikan pada saya, hendaklah ayat tersebut saya sendiri yang menyampaikannya atau 'siapa yang berkedudukan seperti saya'.

Dengan ini ayat Mubahalah dan beberapa riwayat yang lain mengatakan diri Ali setara martabatnya dengan diri Rasulullah (s) kecuali kenabian. Oleh kerana Nabi lebih Afdhal dari semua Nabi, maka Ali (as) juga lebih Afdhal dari seluruh Anbiya.

Sebagai tambahan, dalam kitab-kitab Syiah juga ada banyak riwayat tentang kelebihan para Imam (as) atau kelebihan Amirul Mukminin yang mempunyai hubungan dengan Anbiya yang lain. Ali, Hasan, Hussain dan Fatimah adalah daripada golongan ayat Tathir yang telah Allah sucikan sesucinya daripada segenap kenistaan; tidak ada pula Ta'bir seperti ini untuk para Anbiya.

Semoga Berhasil
Angkatan Menjawab Syubhah
http://reyhane-masoumah.blogspot.com

Saturday, April 11, 2009

Siri Menjawab Syubhah: Tolong berikan penerangan tentang Bai'atul Ridwan dan kaitannya dengan keadilan Sahabat

Pertanyaan: Tolong berikan penerangan tentang Bai'atul Ridwan dan kaitannya dengan keadilan Sahabat.

Jawapan: Di zaman perjanjian Hudaibiyah, sekumpulan orang Islam membai'at Nabi di bawah pohon. Pembai'atan ini masyhur dengan Bai'atul Ridwan dengan ayat yang telah turun:
________________________________
"Mereka yang membai'at dikau hakikatnya mereka membai'at Allah, sesungguhnya Allah ridha dengan Mukminin jikalau mereka membai'at engkau di bawah pohon."

Ahlusunnah tidak percaya kebarangkalian tuhan meridhai seseorang dan selepas itu individu itu menyimpang. Dalam pembai'atan ini siapa pun seperti Umar, Abu Bakar, Uthman, Khalid dan beberapa orang lagi telah hadir.

Jawapan kami ialah pertamanya ayat itu sendiri menggunakan kalimah 'iz zarfiah muqayyad'. Iaitu ayat itu menyatakan pada ketika itu Allah meridhai engkau yang memberi Bai'at. Dengan ini tuhan meridhai mereka sebelum dan selepas pembai'atan tertakluk dengan syarat selagi individu itu mampu tetap menjaga kemakmuran ini.

Ibnu Kathir, Tabari dan Suyuthi adalah daripada kalangan ulama besar Ahlusunnah mengatakan Bal'am bin Ba'urah yang punyai maqam maknawi yang tinggi, di mana Tuhan meletakkan nama sejahtera (Islam) padanya. Al-Quran menyatakan perkara ini:
__________________________
"Kami membacakannya mereka kisah orang yang telah kami berikannya ayat"
al-A'raf 175

Ini menunjukkan tingkatan maqam Bal'am bin Ba'ura lebih tinggi dari mereka yang berada di Bai'atul Ridwan kerana beliau mempunyai Ismu A'zam.
_________________________________
"maka dia menuruti Syaitan dan termasuk di kalangan mereka yang sesat"

Kesimpulannya dengan pengajaran peristiwa ini, jikalau Tuhan meridhai seseorang, maka Dia akan menyatakan keridhaanNya dengan bentuk yang sangat berharga selama seseorang itu menjaga keistiqamahan prinsip itu. Jika tidak, begitu banyak orang yang memiliki makam yang sangat tinggi namun setelah itu mereka tersesat.

Sebagai contoh Abdullah bin Abi Sara sahabat Rasulullah (s) penulis wahyu pertama, akan tetapi selepas beberapa ketika ia murtad dan menghina Rasulullah (s). Hingga sampai ke satu tahap, Rasulullah berkata pada waktu Fath Makkah, beberapa orang daripada mereka, walaupun mereka bergantung pada kain Kaabah, penggallah kepala mereka, salah seorang daripada mereka ialah Abdullah bin Abi Sara'.

Allah (swt) berfirman kepada Rasulullah (s):
_________________________________
"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu 'jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." Surah az-Zummar ayat 65.

Kita menerima bahwasanya ayat-ayat ini diturunkan tentang sahabat. Akan tetapi berapa ramai antara sahabat-sahabat yang mampu menjaga makam tersebut, Perlulah adanya pembahasan dan penelitian.

Begitu juga dalam Sahih Muslim terdapat hadis yang bernama Hadis Haudh, yang mana tidak ada jalan lagi untuk Ahlussunnah mengelak dari hal tersebut. Di hari kiamat sebilangan para sahabat akan dibawa ke api neraka. Rasulullah bertanya ke mana dibawa sahabat-sahabat baginda. Lantas dijawab ke neraka. Ditanya kenapa, lantas dijawab lagi, kerana mereka murtad dan kembali ke masa jahiliyah sepeninggalan baginda. Yang lebih menarik, Bukhari mengatakan hanya sedikit daripada mereka yang selamat.
Sahih Bukhari: 7/208; Shawahid Tanzil: 284/1

Ummul Mukminin Aisyah telah berkata:
"Sekalian orang Arab telah murtad setelah wafatnya Rasulullah"
Al-Bidayah wa al-Nihayah: 6/336; Tarikh Madinah Dimasyq: 30/316, Wahabi ingin mempermasalahkan Syiah iaitu engkau mengatakan sesudah Nabi semua orang selain empat orang telah murtad, iaitu selama masa 23 tahun usaha keras Rasulullah mendidik hanya empat orang yang tidak murtad? Jawaban kami ialah, kalau kami mengatakan hanya empat orang yang tidak murtad,tetapi Ummul Mukminin Aisyah mengatakan semua orang Islam itu murtad, tentunya dalam pandangan Syiah yang dimaksud dengan murtad bukanlah murtad daripada keimanan, akan tetapi menentang perintah-perintah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah.

Pada zaman khalifah ke dua, ketika salah seorang sahabat meninggal, saat Huzaifah tidak menerima bahawa sahabat ini bukan daripada kalangan munafik, hinggalah khalifah tidak hadir untuk menyolatinya kerana ia takut orang tersebut daripada golongan munafik. Ini kerana Syiah dan Sunni menerima bahawasanya Huzaifah sahabat penyimpan rahsia dan Rasulullah pernah mengatakan nama-nama orang munafik kepadanya.

Semoga Berhasil
Angkatan Menjawab Syubhah
http://reyhane-masoumah.blogspot.com/